PERINTAH MENJADI GARAM BERIMPLIKASI PENINGKATAN KWALITAS DAN PROPORSIONAL

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang”. (Matius 5 : 13)

Menjadi garam dunia adalah menerapkan salah satu dari nilai-nilai kekristenan. Pengertian nilai yang kami maksudkan adalah,  ukuran tentang kebenaran dan kebaikan  yang diyakni dan diterapkan dalam kehidupan individu atau organisasi.

Jika garam diyakini sebagai sebuah ukuran tentang kebenaran dan kebaikan maka garam itu harus menunjukkan keasinannya serta digunakan secara proporsional (pas ukuran dan pas perbandingannya).  Masakan yang diberi garam secara proporsional akan enak dinikmati.  Sebaliknya masakan dengan garam yang berlebihan atau tanpa/kurang garam, akan menimbulkan masalah bagi yang menikmatinya.

Orang Kristen diharapkan menjadi garam dunia : Pertama, orang Kristen terpanggil untuk selalu meningkatkan kwalitas diri, sehingga mampu mengambil peran dalam dinamika kehidupan gereja dan masyarakat.  Kondisi ini mempunyai implikasi orang Kristen harus selalu belajar dan meningkatkan kapasitas diri, sehingga menjadi pribadi-pribadi handal dibidangnya. Jika garam itu menjadi tawar,  tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Demikian juga orang-orang Kristen, kalau tidak menjadi pribadi yang berkwalitas dan handal akan ditinggalkan dan tidak ada satu pihakpun yang membutuhkan.

Kedua, orang Kristen terpanggil  untuk mengambil peran secara proporsional dalam dinamika kehidupan gereja, masyarakat dan negara. Mengambil peran secara proporsional, dapat diartikan  bahwa orang Kristen tidak harus  mendominasi  dan menguasai lingkungannya secara mutlak, namun tidak boleh tidak ada sama sekali, atau tanpa mengambil peran apapun. Diam, pasif, dan masa bodoh, merupakan bentuk-bentuk sikap dan perilakuku seseorang yang tidak ingin mengambil peran apapun dalam dinamika kehidupan gereja, masyarakat dan negara.

Sebagaimana garam yang larut dalam masakan, masakan dimaksud akan terasa enak untuk  dinikmati  jika garam yang dilarutkan pas ukuran dan pas perbandingannya.  Pemahaman terhadap hal ini adalah,  orang Kristen sebenarnya mampu menciptakan suasana yang harmonis terhadap lingkungannya, baik lingkungan keluarga, gereja, pekerjaan, masyarakat dan negara, jika peran yang diambil dilakukan secara proporsional. Suasana harmonis (enak, nyaman, saling menghormati,rukun) merupakan kondisi yang didambakan oleh semua orang,  karena suasana dan kondisi seperti inilah tempat yang positip bagi pertumbuhan iman dan pengembangan kapasitas seseorang.

Yogyakarta, 31 Mei 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: