MENDAMBAKAN KOPERASI SEJATI BERKEMBANG SECARA SEHAT

Sejak koperasi dinyatakan secara tegas sebagai Badan Usaha sebagaimana pengertian koperasi pada Undang-undang koperasi yang berlaku saat ini,  diberbagai daerah dan kota muncul berbagai jenis koperasi. Koperasi-koperasi dimaksud antara lain, Koperasi Serba Usaha (KSU), Koperasi Pasar (Koppas), Koperasi Pengrajin, Koperasi Jasa Angkutan, Koperasi Pemuda, Koperasi Karyawan dan yang paling banyak  adalah Koperasi Simpan Pinjam (KSP).  Banyaknya koperasi yang bermunculan tersebut dapat dimengerti karena persyaratan pendidrian koperasi lebih sederhana dan biaya yang dibutuhkan relatif  lebih kecil   jika dibandingkan pendirian  Badan Usaha  lain. Selain itu,  setelah koperasi beroperasi pengawasan baik pasif maupun aktif dari pihak yang mempunyai kewenanganpun tidak seketat pengawasan yang dilakukan kepada Badan Usaha lain khususnya perbankan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa motivasi pendirian koperasi  sebagian besar untuk mencari keuntungan semata dan hanya sedikit yang menjadikan koperasi sebagai salah satu piranti  pemberdayaan ekonomi rakyat. Pihak-pihak yang menjadikan koperasi sebagai alat mencari keuntungan pada umumnya para pemodal besar dan memilih KSP sebagai jenis koperasi yang didirikan. Sedangkan pihak-pihak yang menjadikan koperasi sebagai salah satu piranti pemberdayaan ekonomi rakyat pada umumnya atas prakarsa masyarakat sendiri yang dimulai dengan mendirikan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM), NGO/LSM international maupun lokal,  serta pemerintah. Terutama pemerintah daerah yang mempunyai komitmen terhadap pemberdayaan ekonomi kerakyatan.

Munculnya berbagai jenis koperasi tersebut mengundang seorang aktivis LSM  untuk mengelompokkan jenis koperasi di Indonesia menjadi tiga, yaitu  koperasi  “merpati”,  “pedati”  dan sejati. Meskipun bernada sindiran terhadap perkembangan koperasi saat  itu kiranya  makna dari tiga jenis koperasi dimaksud menjadi penting untuk direnungkan.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa jenis koperasi yang pertama yaitu koperasi “merpati”,  analog dengan  perilaku burung merpati.  Ia  akan datang dan muncul  jika diberi  pakan namun akan terbang dan  pergi bahkan menghilang  jika pakan yang diberikan tidak ada lagi.   Jenis koperasi yang kedua adalah koperasi  “pedati”.  Koperasi ini analog dengan sebuah pedati,  yang  hanya berfungsi sebagai  alat kepentingan penggunanya.  Ia akan  bergerak jika ditarik atau didorong oleh pihak yang berkepentingan tersebut.  Sedangkan jenis koperasi yang ketiga adalah koperasi sejati, yakni koperasi yang tumbuh dan berkembang  berdasarkan   prinsip-prinsip koperasi.

Gambaran koperasi sebagaimana yang diungkapkan oleh aktivis LSM tersebut kiranya dapat menggambarkan beberapa motivasi pendirian  koperasi yang ada di Indonesia.  Jenis koperasi “merpati” nampak pada koperasi-koperasi yang bermunculan manakala  tersedia fasilitas bagi  koperasi namun akan hilang jika fasilitas dimaksud tidak ada lagi.   Masih segar dalam ingatan kita pada saat pemerintah mengeluarkan kebijakan mengenai skema kredit untuk koperasi di masa krisis ekonomi beberapa tahun yang lalu.  Saat itu semua jenis koperasi  memperoleh  kesempatan yang sama untuk menyalurkan Kredit Usaha Tani (KUT),  yang sebelumnya hanya diperuntukan  bagi Koperasi Unit Desa (KUD).  Dengan adanya kebijakan ini  munculah   koperasi-koperasi baru seakan berlomba untuk menjadi pemenang dalam penyaluran KUT.  Namun setelah fasilitas tersebut tidak diberikan lagi, koperasi-koperasi tersebut menghilang dan hanya meninggalkan papan nama saja.  Hal yang sama juga terjadi manakala pemerintah mengeluarkan kebijakan mengenai penggunaan  sebagian laba BUMN untuk pengembangan koperasi dan UKM.  Banyak koperasi bermunculan sekedar untuk meraih fasilitas permodalan yang berasal dari sebagian laba  BUMN  tersebut.

Sedangkan jenis koperasi yang kedua,  yaitu koperasi “pedati” tercermin pada koperasi-koperasi yang  tumbuh karena dijadikan sebagai alat kepentingan pihak-pihak tertentu sebagaimana fungsi pedati itu sendiri. Banyak koperasi yang berdiri atas  prakarsa atau inisiatif  pihak lain  karena kepentingan pemrakarsa itu sendiri.  Misal, pendirian koperasi hanya digunakan sebagai alat untuk  memperkuat posisi tawar terhadap penguasa jika terjadi penertiban tempat usaha,  pendirian koperasi dijadikan alat untuk melakukan mobilisasi masa untuk mendukung  tokoh atau kekuatan politik  tertentu,  pendirian koperasi sebagai alat untuk memperoleh kredit point dalam suatu  lomba tingkat desa/kelurahan sampai  tingkat  propinsi. Bahkan dapat pula terjadi    pendirian koperasi sekedar digunakan sebagai alat untuk memperoleh  persetujuan proposal yang dibuat oleh lembaga tertentu yang diajukan kepada lembaga dana di luar negeri.  Pada koperasi  “pedati” ini  campur tangan pemrakarsa yang kemudian berkembang menjadi pembina atau pendamping biasanya cukup tinggi sehingga koperasi  “pedati” ini akan selalu tergantung kepada pemrakarsa, pembina atau pendampingnya. .  Bahkan tidak sedikit dari para pemrakarsa, pembina maupun pendamping  tersebut menduduki  kepengurusan  atau  badan pengawas  dengan tujuan  agar  dapat  mengontrol dan mengamankan kepentingannya.  Jika perlu ia akan duduk sebagai pengurus atau badan pengawas selama-lamanya..

Karena motivasi pendirian kedua jenis koperasi tersebut hanya menjadikan koperasi sebagai alat memperoleh fasilitas maupun alat kepentingan  para pemrakarsa,  maka baik koperasi  “merpati” maupun  “pedati” biasanya tidak akan dapat bertahan lama  karena tidak memiliki landasan dan komitmen  yang   kuat  terhadap kepentingan anggota.  Hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan oleh  Menteri Negara Koperasi pada Hari Ulang Tahun ke 57 Koperasi Propinsi DIY  beberapa tahun yang lalu menyatakan,  bahwa koperasi yang hidup dengan mengandalkan dukungan pihak eksternal, ternyata rapuh dan akan menghadapi masalah serius.

Jenis koperasi yang ketiga adalah jenis koperasi sejati, yakni koperasi yang tumbuh dan berkembang  karena menjujung tinggi prinsip-prinsip koperasi.  Koperasi sejati ini tercermin pada koperasi yang telah menyadari bahwa ia adalah badan usaha  yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum yang melandaskan kegiatannya pada prinsip-prinsip koperasi.  Antara lain,  rapat anggota merupakan pemegang kekuasaan tertinggi,  pengurus dan pengawas dipilih oleh anggota secara demokratis, satu orang anggota mempunyai satu suara serta mempunyai kesamaan hak dan kedudukan,  anggota yang berjasa memperoleh jasa/penghargaan, sumber dana koperasi diutamakan dari anggota melalui mobilisasi simpanan saham (simpanan pokok dan  simpanan wajib)   serta  simpanan non saham (simpanan sukarela, simpanan berjangka, dsb) sedangkan   sumber dana dari luar  ditempatkan sebagai pendudung dan memperkuat struktur permodalan.  Prinsip koperasi yang lain adalah usaha koperasi dikelola secara terbuka dan  diprioritaskan untuk kepentingan dan kesejahteraan anggota. .Karena prinsip-prinsipnya tersebut maka koperasi mempunyai slogan  yang terkenal, yaitu dari, oleh  dan untuk anggota.

Sebagai sebuah piranti pemberdayaan ekonomi rakyat,  koperasi-koperasi sejati  inilah yang kita dambakan untuk berkembang secara sehat.  Bukan koperasi  “merpati” dan koperasi  “pedati”.  Suatu koperasi dapat berkembang secara sehat jika koperasi itu sendiri sehat dalam organisasi,  sehat kepengurusan  dan  sehat usahanya. Indikasi koperasi itu sehat organisasi antara lain adalah  selalu dapat menyelenggarakan Rapat Anggota Tahunan secara tepat waktu,  kesadaran anggota sebagai anggota koperasi semakin meningkat sebagai buah dari pendidikan yang dilakukan secara terus menerus, mampu menyajikan laporan keuangan secara berkala dan transparan,  serta  menjadikan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART)  sebagai  pedoman.  Sedangkan indikasi suatu koperasi sehat kepengurusannya antara lain adalah,  masing-masing pengurus dan badan pengawas berfungsi sesuai fungsi masing-masing, pengurus maupun badan pengawas selalu menyelenggarakan pertemuan secara teratur,  pergantian pengurus dan badan pengawas dapat terlaksana sesuai dengan AD/ART  yang  dimiliki dan berlangsung secara demokratis,   serta   pengurus dan badan pengawas tidak melakukan hal-hal yang berbau KKN.  Selanjutnya indikasi koperasi itu sehat usahanya antara lain adalah, usaha koperasi semakin beragam, serta  simpanan  anggota,  permodalan,   volume usaha, serta laba usaha koperasi, menunjukan peningkatan.

Untuk mewujudkan koperasi sejati berkembang secara sehat sebagaimana didambakan oleh banyak pihak diperlukan adanya  komitmen  bersama  bahwa  koperasi adalah badan usaha dan menjadikan prinsip-prinsip koperasi sebagai landasan kegiatannya.  Motivasi  dan segala bentuk campur tangan  oleh siapapun dalam rangka pendirian dan pengembangan koperasi hendaknya selalu menghindari hal-hal dapat merusak prinsip-prinsip koperasi itu sendiri

___________________

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: