ADOPSI ANAK SECARA FINANCIAL SOLUSI PERMASALAHAN ANAK-ANAK KORBAN GEMPA DAN TSUNAMI

Gempa bumi dan gelombang tsunami yang terjadi di  Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Sumatera Utara (Sumut) pada hari Minggu 26 Desember 2004 beberapa waktu yang lalu mengakibatkan kerugian dan korban jiwa yang tidak kecil jumlahnya. Gedung-gedung perkantoran, pertokoan, pasar, pelabuhan, sekolah, tempat ibadah dan rumah-rumah penduduk luluh lantak diterjang oleh ganasnya gelombang tsunami tersebut.  Selain menghancurkan bangunan-bangunan fisik  ratusan ribu jiwa menjadi korban.  Lebih dari seratus ribu orang meninggal dunia, puluhan ribu hilang dan menderita luka serta ratusan ribu yang lain berada di tempat-tempat pengungsian.

Selanjutnya dampak  dari gempa dan tsunami ini  menimbulkan berbagai permasalahan yang membutuhkan penanganan secara berkelanjutan,   diantaranya  adalah permasalahan anak-anak,   utamanya balita sampai dengan remaja.  Karena bencana alam ini  puluhan ribu  anak tidak dapat menikmati kehidupan perekonomian, sosial, layanan kesehatan, pendidikan dan keagaman secara wajar sebagaimana yang dialami sebelum bencana terjadi. Mereka terpaksa hidup di tempat-tempat pengungsian bersama-sama dengan orang tuanya   karena rumah dan harta orang tua mereka telah rata dengan tanah, bahkan tidak sedikit pula anak-anak di pengungsian ini  tidak didampingi oleh  orang tuanya lagi karena orang tuanya belum ditemukan bahkan telah meninggal dunia. Bagi anak-anak usia balita, kehidupan dalam pengungsian menimbulkan persoalan tersendiri. Berbagai kebutuhan untuk menjadikan mereka  tumbuh dan berkembang sebagai anak yang sehat, cerdas dan bertaqwa  mengalami hambatan karena terbatasnya fasilitas dan sarana. Sedangkan anak-anak yang telah menikmati bangku sekolah juga terancam kelangsungan pendidikannya.  Selain disebabkan oleh faktor biaya sebagai faktor utama,  dokumen-dokumen yang mereka milikipun  hilang terbawa gelombang, gedung-gedung sekolah tempat mereka belajar selama ini hancur bahkan guru-guru mereka belum ditemukan bahkan tidak sedikit yang meninggal dunia. Selain itu kondisi kejiwaan yang traumatis terhadap bencana yang pernah dialami memperparah keadaan mereka. Penderitaan anak-anak inipun semakin lengkap  dengan adanya ancaman perdagangan anak-anak keluar negeri oleh pihak-pihak yang ingin memanfaatkan situasi. Permasalahan anak-anak  ini mendesak untuk dicarikan jalan keluarnya secara berkelanjutan dan  untuk mewujudkan penangananan yang berkelanjutan dimaksud, gerakan adopsi anak  secara financial (sponsorship)  kiranya dapat dikembangkan.

Adopsi anak secara financial merupakan suatu gerakan atau upaya untuk mengajak pihak lain menjadi orang tua angkat secara financial atau sponsor bagi anak-anak korban bencana untuk jangka waktu tertentu,  tanpa  membawa anak-anak dimaksud keluar dari  lingkungan tempat tinggalnya.  Para sponsor ini dapat  bersifat perorangan, kelompok, organisasi, yayasan maupun perusahaan serta berasal dari dalam maupun luar negeri.  Setiap anak diharapkan mempunyai satu orang tua angkat atau sponsor namun sebaliknya, setiap sponsor dimungkinkan mempunyai lebih dari satu anak angkat sepanjang yang bersangkutan mempunyai kemampuan financial.  Sifat dari gerakan adopsi anak  secara financial atau sponsorship ini adalah murni kemanusiaan sehingga tidak mempunyai kepentingan-kepentingan yang berhubungan dengan  politik, agama, maupun ras. Setiap orang tua angkat atau sponsor setiap bulannya  mempunyai kewajiban untuk menyediakan sejumlah dana yang akan digunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup, biaya pendidikan, kesehatan, dan pendampingan, pembinaan  atau bimbingan  anak angkatnya.  Namun para orang tua angkat dimungkinkan pula memberikan bantuan dana ekstra atau pemberian dalam bentuk lain yang  dikaitkan dengan hari ulang tahun anak, prestasi sekolah anak pada tahun ajaran baru atau hari-hari besar nasional maupun  keagamaan.  Selain itu orang tua angkat ini pun sesekali waktu atas inisiatip sendiri  dapat mengunjungi anak angkatnya sehingga dapat  mengetahui perkembangan anak angkat beserta lingkungannya  secara langsung serta meningkatkan kedekatan emosi antara kedua belah pihak.

Untuk  operasionalnya  gerakan orang tua angkat secara financial atau sponsorship ini perlu dikoordinasikan oleh suatu lembaga yang independent,  profesional dan akuntable,   yang  keberadaannya membutuhkan payung hukum sesuai dengan ketentuan yang ada.  Selanjutnya lembaga ini akan mempunyai fungsi intermediasi financial, informasi dan komunikasi antara  orang tua angkat atau sponsor dengan anak angkat, serta fungsi pendamping, pembina dan bimbingan kepada anak-anak angkat dalam bidang pendidikan, kesehatan serta kehidupan sosial yang lain. Lembaga ini secara berkala mempunyai kewajiban pula untuk menyampaikan laporan perkembangan masing-masing  anak angkat kepada orang tua angkatnya serta memfasilitasi terjadinya komunikasi melalui surat-menyurat antara orang tua angkat dengan anak angkatnya. Untuk itu lembaga ini perlu diperkuat dengan para pekerja sosial yang professional yang  dapat hidup dari pekerjaannya ini.

Jika lembaga ini dapat segera dibentuk,  maka dalam rangka penanganan anak-anak korban bencana di NAD dan Sumut lembaga ini dapat memulai dengan menyusun persyaratan dan kriteria anak yang akan dijadikan anak angkat, persyaratan dan kriteria orang tua angkat atau sponsor  serta ketentuan-ketentuan operasional lembaga yang lain. Selanjutnya lembaga ini bekerja sama dengan pihak-pihak yang telah melakukan penanganan anak-anak korban bencana di NAD dan Sumut melakukan pendataan kembali terhadap jumlah dan .identitas anak. Mengenai identitas anak, sebaiknya menggunakan instrument baku serta dapat digunakan untuk berbagai kepentingan (multi guna). Setelah terdata, kemudian dilakukan pemetaan sehingga dapat diketahui anak-anak yang memenuhi kriteria sebagai anak angkat, serta status keberadaannya.  Masih mempunyai orang tua atau sudah yatim piatu. Bagi anak-anak yang masih mempunyai orang tua,  mereka akan tetap tinggal bersama dengan orang tuanya sedangkan bagi anak yang telah yatim piatu  guna memudahkan pendampingan pembinaan dan bimbingan sebaiknya dijadikan dalam satu atau beberapa tempat semacam panti yang lokasinya dalam jangkauan  fasilitas umum pendidikan dan kesehatan.

Lembaga kemudian melengkapi data identitas anak-anak yang memenuhi kriteria sebagai anak angkat dengan foto anak dan  orang tua (jika masih mempunyai orang tua) sehingga menjadi sebuah profil yang cukup  informatif  dari calon anak- anak angkat. Profil ini kemudian dikomunikasikan kepada masyarakat luas, dalam maupun luar negeri sehingga pihak-pihak yang terpanggil dan berminat menjadi orang tua angkat secara financial atau sponsor  dapat memilih sendiri anak-anak angkatnya berdasarkan profil tersebut. Sedangkan penyeberan informasi  mengenai anak-anak yang membutuhkan orang tua angkat dapat dilakukan melalui berbagai saluran maupun media,   antara lain internet.

Melalui gerakan adopsi anak secara financial atau sponsorship ini kiranya dapat mengurangi kekhawatiran beberapa pihak yang selama ini mengemuka. Sebab anak-anak korban bencana akan tetap tinggal  di dalam lingkungan budayanya serta akan memperoleh pendampingan, pembinaan dan bimbingan yang sesuai dengan  budayanya pula. Bahkan melalui surat-surat yang dikirimkan kepada orang tua angkatnya mereka dapat bercerita mengenai pariwisata, budaya serta potensi lain di daerahnya sehingga menarik minat orang tua angkat atau sponsor  mengujungi NAD dan Sumut.

Untuk mewujudkan gerakan adopsi anak secara financial atau sponsorship bagi anak-anak korban bencana di NAD dan Sumut ini tentunya membutuhkan waktu yang cukup lama, tenaga dan biaya yang tidak kecil jumlahnya,  namun perlu disadari bahwa penanganan anak-anak tersebut memang tidak dapat diselesaikan dalam jangka waktu satu, atau tiga bulan saja Yang diperlukan sekarang adalah bagaimana mengelola rasa empati dan  simpati yang begitu  besar yang secara spontan telah ditunjukkan oleh  masyarakat dalam dan luar negeri terhadap penderitaan anak-anak di NAD dan Sumut ini menjadi empati dan simpati  untuk jangka waktu yang panjang.

Sebagai gerakan yang berbasiskan pada masyarakat gerakan adopsi anak secara financial atau sponsorship memerlukan tahapan persiapan sosial secara memadai karena akan mempengaruhi terhadap keberhasilan gerakan itu sendiri.   Sedangkan pada sisi yang lain,  keberhasilan gerakan adopsi anak secara financial atau sponsorship bagi anak-anak korban tsunami di NAD dan Sumut ini kiranya dapat dijadikan sebagai  pintu masuk bagi penanganan anak-anak terlantar di propinsi lain  sebagai akibat dari  bencana alam dan  konflik  serta  kemampuan ekonomi keluarga.

Yogyakarta,  12 Januari 2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: