Demonstrasi Guru : SEBENARNYA, ADA APA DENGANMU PARA GURU ???

Demonstrasi  atau unjuk rasa para guru akhir-akhir ini semakin marak dan terjadi di beberapa daerah. Masih segar dalam ingatan kita demo yang dilakukan oleh para guru di Kabupaten Kampar Propinsi Riau. Gara-gara tersinggung dengan ucapan dan merasa dilecehkan oleh Bupati Yefry Noer para guru turun kejalan dan  berakhir dengan   dicopotnya Yefry Noer dari jabatannya sebagai Bupati.  Di Kabupaten Purworejo Jawa Tengah, para gurupun mengancam melakukan mogok kerja alias mogok  mengajar,  gara-gara  Perda nomor 7 tahun 2003 mengenai batas usia pensiun dari 60 tahun menjadi 56 tahun. Di beberapa Kabupaten dan Ibukota Provisnsi  para guru bantu dan honorer (negeri maupun swasta)  berunjuk rasa ke DPRD karena nasibnya belum terakomodasi di dalam  Undang-undang Guru dan  Dosen.   Selain itu demo yang dilakukan juga terkait dengan kebijakan penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS)  yang dirasakan kurang memperhatikan keberadaan guru bantu dan honorer.   Bahkan dalam acara Hari Guru yang berlangsung di kota Solo Jawa Tengah beberapa bulan lalu  sebuah puisi bernada protes akan nasib dan fasilitas pendidikan yang minim  sempat dibacakan,  yang mengakibatkan  Wakil Presiden YK  berang.  Selanjutnya demo para guru yang  diikuti dengan mogok mengajar  yang terjadi di Kabupaten Lombok Timur,  menjadi sajian berita dari media masa cetak dan elektronik  paling hangat saat ini.  Demo para guru di Kabupaten Lombok Timur tersebut dipicu adanya Perda  nomor 9 tahun 2002 mengenai pemotongan gaji sebesar 2% untuk zakat. Senasib dengan Yefry Noer,  Bupati Ali Dahlan pun menjadi korban.  Sidang paripurna DPRD Kabupaten Lombok Timur menonaktifkan Ali Dahlan sebagai Bupati, meskipun yang bersangkutan masih melakukan perlawanan dengan tetap berkantor di kantornya yang cukup asri dan luas itu.  Tragis jika sampai Ali Dahlan benar-benar lengser dari jabatannya sebagai Bupati,  sebab perjalanan yang sangat panjang dari seorang Ali Dahlan untuk menduduki kursi nomor satu di Kabupaten Lombok Timur harus berakhir dari elemen masyarakat pendidikan (baca : guru).  Padahal sebelumnya ia dikenal sebagai orang yang sangat peduli dengan dunia pendidikan formal maupun non-formal, yang dibuktikan dengan  mendirikan Universitas Gunung Rinjani (UGR) maupun Pusdiklat Pengembangan Masyarakat di bawah Yayasan Swadaya Membangun (YSM)  yang berlokasi di Kabupaten Lombok Timur, jauh sebelum yang bersangkutan menjadi Bupati.

Mengapa guru melakukan demo, mengutip syair lagunya Peterpan   “Ada apa denganmu”,  kiranya menjadi pertanyaan  yang relevan bagi kita kepada  para guru  dalam menyikapi  demo para guru yang terjadi akhir-akhir ini.  Pertanyaan tersebut sangat wajar mengingat selama ini guru dikenal sebagai  “anak manis” yang penurut,  tidak banyak ulah, nrimo atau tidak banyak menuntut,  bahkan cukup puas dan berbangga hati dengan sebutan sebagai  “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”. Sering kali kita melihat air mata keharuan meleleh  dari mata para guru manakala lagu itu dinyanyikan oleh  siswa-siswanya.  Jika para guru memperjuangkan nasibnya,  dilakukan dengan atau melalui mekanisme dan saluran yang ada sehingga tidak menimbulkan gejolak di dalam masyarakat.   Namun karena sikapnya yang penurut, nrimo dan tidak banyak ulah tersebut , seringkali guru dengan PGRI nya dimanfaatkan untuk kepentingan-kepentingan politik praktis oleh pihak-pihak yang mengejar kekuasaan.    Namun,  setelah  reformasi terjadi, para gurupun terimbas untuk melakukan demonstrasi  di dalam menyalurkan aspirasinya  Bahkan  demonstrasi yang semula hanya dilakukan oleh para mahasiswa telah  meluas  dan dilakukan oleh elemen masyarakat lain. Buruh pabrik, pelajar, LSM, para professional, artis fim dan sinetron, ibu-ibu rumah tangga, dan masyarakat pedesaan yang terkena proyek pembangunan.   Demonstrasi yang terjadi tersebut  sebagian besar berbuntut tindakan anarkhis, pengrusakan fasilitas umum,  dan membawa korban harta benda serta  manusia. Kondisi ini tentu saja tidak menguntungkan,  sebab akan berpengaruh kurang positip terhadap berbagai bidang kehidupan. Antara lain, produktivitas kerja, stabilitas kemanan, pelayanan umum, investasi, pariwisata,  serta proses belajar mengajar akan terganggu jika para guru yang melakukan demo dan mogok kerja.

Saat berada di dalam kelas serta melakukan proses belajar mengajar  para guru dilengkapi dengan beberapa metode mengajar antara lain metode demonstrasi. Dengan maksud agar materi pelajaran yang disampaikan lebih mudah diterima oleh para siswa. Namun demonstrasi yang  sering dilakukan oleh para guru akhir-akhir ini tentu saja bukan dalam rangka proses belajar mengajar maupun penerapan  metode pembelajaran demokrasi bagi masyarakat,  melainkan sebagai upaya penyampaian tuntutan, memberikan dukungan, tanggapan, penolakan atau merupakan bentuk perwujudan sikap guru sebagai respons terhadap kebijakan pemerintah yang dirasa merugikan para guru.  Demonstrasi terpaksa ditempuh karena dengan cara lain yang lebih halus, lebih etis, lebih enak dilihat dan dirasakan serta lebih mendidik belum/tidak membawa hasil. Namun melalui demonstrasi fakta empiris membuktikan aspirasi yang sebelumnya selalu kandas atau menemui  jalan buntu  justru membuahkan hasil lebih cepat.  Jika gejala seperti ini terus berlanjut, maka masyarakat akan lebih senang melakukan  demonstrasi untuk menyelesaikan masalah atau membuahkan hasil, jika  dibandingkan dengan cara-cara lain. Padahal  di dalam masyarakat kita yang majemuk ini mempunyai kekayaan budaya  antara lain  kearifan lokal yang dapat digali kembali untuk menyelesaikan permasalahan setempat yang terjadi. Memang cara ini lebih sulit,  lebih lama dan lebih menantang untuk membuahkan kesuksesan (hasil).  Namun kita perlu ingat apa yang dikatakan oleh Albert EN Gray  dengan Dalil Umum Mencapai Sukses yang sempat terkenal di Amerika Serikat. Menurutnya, orang-orang  sukses adalah orang-orang yang menginginkan  hasil menyenangkan, sedangkan orang yang gagal adalah orang yang menginginkan cara yang menyenangkan.

Demonstrasi atau aksi turun kejalan merupakan salah satu cara   untuk  menyalurkan aspirasi dan tidak di larang oleh Undang-undang, bahkan diatur agar aksi unjuk rasa tersebut dapat berjalan dengan tertib.  Dengan demikian terbuka kemungkinan untuk mengemas aksi demonstrasi ini menjadi sebuah aktivitas bahkan  tontonan yang menarik untuk dinikmati masyarakat.  Di sisi lain,  pihak keamanan hendaknya menghindari cara-cara represip jika mengahadapi para demonstran,  dan pihak yang di demopun  seharusnya cepat tanggap dan membuka diri untuk  berdialog sehingga  emosi masa tidak tersulut kearah tindakan-tindakan anarkhis.

Demo para guru bagaimanapun sudah sering dan kemungkinan akan terus terjadi di masa-masa mendatang. Undang-undang Guru dan Dosen khususnya Bab VIII pasal 23 ayat 1 sampai 6 yang menyatakan bahwa guru  berhak mendapatkan perlindungan hukum, perlindungan profesi, dan perlindungan keselamatan kerja nampaknya masih membutuhkan waktu untuk penerapannya. Dalam hal ini   masyarakatpun paham dan akan mendukungnya  jika demo dimaksud masih dalam bingkai untuk menyalurkan aspirasi, memperjuangkan nasib dan ketidak adilan serta  meningkatkan  mutu pendidikan sepanjang  menghindari cara-cara anarkhis serta  memanfaatkan  kearifan lokal untuk membuahkan hasil.  Akan tetapi  jika demo para guru telah bergeser dan merambah dan/atau dimanfaatkan oleh pihak lain untuk kepentingan politik praktis, dengan cara memobilisasi masa non guru untuk mengikuti demo,  pertanyaan  “Sebenarnya, Ada Apa Denganmu Para Guru” tetap akan menjadi pertanyaan dari masyarakat luas, setidak-tidaknya pertanyaan saya.

Yogyakarta,  2  Februari  2006

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: